Usia dan Usai

Usia menjadi hal yang sensitive bagi sebagian orang.  Beberapa mengatakan itu privacy tapi menurutku usia layaknya alarm yang siap berbunyi kapan pun dari ponsel yang ada disakumu. Usia adalah pengingat bahwa setiap tahunnya ia akan terus bertambah dan mengingatkan apa sudah dicapai dan yang masih ingin dilakukan. Tidak ada satu pun manusia didunia ini yang tahu pasti kapan usia berhenti bertambah. Semua tidak lain adalah misteri dari sang pencipta dan sebagai makhlukNya, kita hanya bisa terus menggunakan waktu sebaik-baiknya. Fiktif belaka bagi sebagian orang apabila kita berbicara lebih mengenai usia, tapi ini hanya bagian dari tugas manusia untuk mengingatkan sesama.
Kini aku memasuki usia kepala dua, lebih tepatnya empat tahun yang lalu. Semua berubah dari apa yang aku bayangkan. Aku merasa memiliki otoritas penuh terhadap diriku, meski keluarga masih menjadi pendukung dalam menentukan setiap langkahku. Sejauh ini aku sudah meraih cita-citaku dimasa kecil. Bekerja didalam ruang ber-AC, menggunakan seragam yang keren, serba rapi dan cantik. Sayangnya dunia kerja tak seindah bayanganku dan tidak seenak di FTV. Bangun pagi, bekerja seharian, pulang di sore hari, tidur, dan kembali bekerja dikeesokan harinya. Begitulah rutinitas yang ku jalani selama lima bulan menjalani sesuai dengan cita-cita. Disitulah aku menyadari bahwa saat usiaku masih belia, aku memimpikan satu pekerjaan dan kini aku tersadar bahwa aku masih bisa bercita-cita untuk hari mendatang begitu juga untuk pekerjaanku.

Lepas bekerja, aku memutuskan untuk kembali ke dunia perkuliahan. Bertemu dengan orang-orang yang memiliki segudang pengetahuan dan pengalaman, cukup memberi tamparan keras bagiku. Rupanya selama ini aku keluar dari duniaku dan kini aku kembali hanya dengan sedikit bekal. Menyadari ini bukan hal yang baik, aku merenungi apa yang bisa aku lakukan di usiaku sekarang. Tidak sedikit teman seusiaku yang memutuskan menikah bahkan sudah menyandang gelar ‘ibu’. Aku hanya tersenyum simpul, tentu bukan pilihanku. Bagiku pernikahan hanya untuk orang yang mampu dan siap, sedangkan aku jauh dari itu. Sebelum aku memutuskan untuk menikah, aku harus membahagiakan diriku sendiri. Tadinya aku hobi terlihat bahagia bagi orang disekitarku, tapi ketika aku terpuruk aku menyadari bukan kebahagiaan murni yang aku salurkan, it’s just a lil bit fake hehehe aku merasa sering murung, jelek, jahat dan masih banyak lagi yang berbau negatif. Akhirnya aku memutuskan, disetiap langkahku aku harus bahagia. Bahagia dengan apapun yang sudah aku lakukan. Bahagia karna usahaku, bukan menunggu orang lain hadir membawa kebahagiaan. Melakukan hal-hal penting yang bermanfaat dalam hidupku, menambah pengetahuan dan juga pengalamanku. Begitulah caraku untuk bahagia dan menjalani hari-hari dalam usiaku, karna aku tidak ingin menyesal ketika semua harus usai.

Comments